Membantu itu Membahagiakan

March 11th, 2009 by azzahrahidayat

Membantu itu Membahagiakan

Oprah angel’s network $1000 holiday to giveaway – alot more happier

Oprah pernah melakukan sebuah eksperimen dengan para pemirsanya. Dia meminta permisanya tersebut untukmenggunakan uang sebesar $1000 yang seharusnya merekaakangunakan untuk liburan, untuk digunakan untuk meringankan beban orang lain, apapun itu. Bisa untuk menyekolahkan anak yang tidak mampu, membelikan obat, memberi makan, apapun dan dilakukan selama masa liburan tersebut.

Setelah masa liburan berakhir, Oprah mengundang mereka untuk tampil pada acaranya dan menceritakan apa pengalaman yang mereka peroleh pada masa liburannya. Ternyata semua mengatakan bahwa mereka belum pernah merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan apa yang diperloleh dengan $1000 yang mereka berikan pada orang lain itu jauh melebihi kebahagiaan yang mungkin akan diperoleh apabila mereka habisakan untuk berlibur.

Hal senada muncul dari hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Oregon. Peneliti dari Universitas Oregan baru-baru ini menggunakan mesin fMRI untuk mempelajari aktivitas otak laki-laki dan perempuan dan memonitor perubahan emosi dan pola dalam berpikir. Dalam eksperimen ini, peneliti memberikan seorang wanita uang sebanyak 100 dolar, dan seperti yang diduga, pusat kebahagiaan di otak menunjukkan peningkatan aktivitas.

Lalu di bagian lain eksperimen ini, wanita tsb diberikan lagi uang dalam jumlah yang sama, namun kali ini wanita tsb diberikan kesempatan untuk mendonasikan uangnya. Hasilnya, terjadi peningkatan aktivitas otak yang jauh lebih besar dibanding ketika wanita tsb menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri. Luar biasanya lagi, ketika penelitian ini dikembangkan dengan cara mengukur aktivitas otak orang yg melihat orang lain menerima kebaikan, ternyata aktivitas yang otak yang sama juga muncul. Artinya, kita pun bisa merasa turut bahagia ketika kita melihat orang lain menerima kebaikan dari orang lain (bukan dari kita).

(Data ini dicari dan diolah oleh “Teh Ai” di PT Kubik Kreasi Sisilain)

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | February 9, 2009

Menghadirkan Cinta di Tempat Kerja

March 11th, 2009 by azzahrahidayat

Menghadirkan Cinta di Tempat Kerja

Saat ini cinta di tempat kerja adalah sesuatu yang langka. Terbelenggu dengan budaya transaksional, scarcity mentality, zero sum game, munculnya silos, departementalization, intra and inerdepartmental conficts, individualism at work sebagai bukti dampak keringnya cinta tempat kerja. Padahal menghadirkan cinta di tempat kerja adalah sesuatu yang membuat hidup kita lebih hidup. Berikut saya tampilkan berbagai hasil kajian ilmiah tentang manfaat cinta dan perhatian.

Cinta meningkatkan kualiatas hidup. Dari serangkaian penelitian yang dilakukan oleh Cornell University ditemukan bahwa memberi perhatian (cinta) dapat meningkatkan kualitas hidup pelakunya, karena ternyata perilaku ini berdampak pada peningkatan sistem kekebalan tubuh (meningkatnya produksi T-cells), mengurangi resiko terkena penyakit kronis, dan juga memperlambat proses penuaan pada tubuh (menjad awet muda).

Cinta Meningkatkan rasa keberhargaan diri. Penelitian yang dilakukan oleh Cornell university juga menemukan bahwa berbagi cinta ternyata berdampak pada meningkatnya rasa keberhargaan diri. Hal ini tentunya sangat baik dampaknya bagi kita sebagai pekerja maupun sebagai individu.

Cinta Membangun lingkungan yang lebih baik. Saat kita memulai untuk melakukan hal baik dengan penuh cinta kepada orang lain, maka itu bisa menjadi virus yang menular. Orang lain tersebut bisa terus menulari dan akhirnya semua orang pun melakukan hal yang sama.

Cinta Menghilangkan stress: Penelitian di Cornell University menunjukkan bahwa cinta dan perhatian terbukti dapat menghilangkan stress dan depresi. Hal senada juga muncul dari penelitian yang dilakukan oleh Oregon University dijelaskan lebih lanjut hal ini disebabkan karena dengan memberi maka kita mengaktifkan area emosi positif di otak kita yang kemudian berefek pada penigkatan semangat dan perasaan lebih baik.

Cinta Membuat lebih produktif. Memberi perhatian kepada orang lain membawa kita pada perasaan positif, dan hal yg sama juga terjadi pada orang yg menerima cinta dan perhatian kita. Ketika hal ini terus dilakukan, maka dampaknya akan meluas menjadi peningkatan kepercayaan, kerjasama dan suasana yang kondusif. Hasilnya, kita pun menjadi lebih terdorong untuk menghasilkan output yang lebih baik.

Bagaimana Menebar Cinta di Tempat Kerja Memberikan pengakuan atas hasil kerja orang lain. Dalam majalah Forbes.com dirilis postingan hasil survey dari O.C. Tanner, penulis buku The Invisible Employee. Penelitian itu menunjukkan peningkatan profit perusahaan hingga 10% ketika aktivitas memberikan pengakuan terhadap hasil kerja orang lain ini dilakukan.

Memberikan selamat dan empati. Memberikan selamat atas hal baik (ulang tahun, kelahiran, pernikahan, dll) dan turut membantu meringankan beban saat terjadi hal sulit (sakit, kematian, masalah di kantor, dll), ternyata terbukti meringankan stress. (Riset dari WorlatWork yg dirilis Forbes)

Menyadari bahwa setia karyawan punya arti. Ibarat anggota tubuh yang semua penting, pekerja di kantor apapun levelnya juga penting dan memberikan kontribusi untuk kemajuan perusahaan. Sekecil apa pun, setiap karyawan itu punya arti. Jadi, tebarlah cinta kepada siapapun karena pasti itu memberi makna kepada kemajuan hidup dan perusahaan Anda.(Diolah dari data yang disiapkan tim Produksi PT Kubik Kreasi Sisilain, salam SuksesMulia, Jamil Azzaini)

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | February 16, 2009

Cintailah Pekerjaan Anda

March 11th, 2009 by azzahrahidayat

Cintailah Pekerjaan Anda

Bekerjalah bukan karena uang.  Lakukan pekerjaan yang benar-benar Anda kuasai dan cintai maka uanglah yang akan mengejar-ngejar Anda.  (Jamil Azzaini)

Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan.  Kebahagiaan adalah kunci kesuksesan.  Jika Anda mencintai apa yang Anda kerjakan, Anda akan meraih kesuksesan. ( Albert Schweitzer)

Bila Anda bekerja terpaksa bukan karena Anda cinta, Itu adalah virus dalam hidup Anda yang akan membunuh Anda pelan-pelan tanpa Anda sadari. (Jamil Azzaini)

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | January 29, 2009

Have you ever really loved a woman…

January 23rd, 2009 by azzahrahidayat

To really love a woman
To understand her - you gotta know it deep inside
Hear every thought - see every dream
N’ give her wings - when she wants to fly
Then when you find yourself lyin’ helpless in her arms
You know you really love a woman

When you love a woman you tell her
that she’s really wanted
When you love a woman you tell her that she’s the one
she needs somebody to tell her
that it’s gonna last forever
So tell me have you ever really
- really really ever loved a woman?

To really love a woman
Let her hold you -
til ya know how she needs to be touched
You’ve gotta breathe her - really taste her
Til you can feel her in your blood
N’ when you can see your unborn children in her eyes
You know you really love a woman

When you love a woman
you tell her that she’s really wanted
When you love a woman you tell her that she’s the one
she needs somebody to tell her
that you’ll always be together
So tell me have you ever really -
really really ever loved a woman?

You got to give her some faith - hold her tight
A little tenderness - gotta treat her right
She will be there for you, takin’ good care of you
Ya really gotta love your woman…

Then when you find yourself lyin’ helpless in her arms
You know you really love a woman
When you love a woman you tell her
that she’s really wanted
When you love a woman you tell her that she’s the one
she needs somebody to tell her
that it’s gonna last forever
So tell me have you ever really
- really really ever loved a woman?

Just tell me have you ever really,
really, really, ever loved a woman? You got to tell me
Just tell me have you ever really,
really, really, ever loved a woman?

(a song by Bryan Adams)

Sambut 2009 dengan rumus SUKSESMULIA

January 17th, 2009 by azzahrahidayat

Sambut 2009 dengan rumus SUKSESMULIA

Takdir terbaik yang kita harapkan adalah hidup SUKSESMULIA.  Sukses adalah memiliki 4-Ta (harta, tahta, kata dan cinta) yang diperoleh dengan expertise atau core competence kita.  Mulia adalah kita mampu memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang dengan 4-Ta yang kita miliki.

Yang Maha Kuasa memberikan hak yang sama kepada kita untuk meraih hidup SUKSESMULIA.  Kehidupan SUKSESMULIA tidak hanya menjadi hak orang-orang yang terlahir dari keluarga yang telah mapan.  Orang tua angkat saya memulai kerja dari office boy kemudian pensiun dini sebagai vice president di city bank. Sahabat saya, Bambang Bakti awalnya adalah driver kemudian menjadi direktur utama salah satu BUMN. M.Yunus seorang dosen ekonomi mampu mendirikan bank untuk orang-orang miskin, Grameen Bank di Bangladesh yang kemudian mengantarkannya meraih hadiah Nobel 2006.

Kehidupan SUKSESMULIA juga bisa diraih dan dipertahankan oleh keluarga yang semula sudah mapan. Orang-orang hebat seperti Bill Gates, BJ. Habibie, Henry Ford, Sandiaga Uno, Choirul Tanjung dan lain-lain semua menggunakan rumus SUKSESMULIA.

Setelah kami melakukan kajian yang mendalam, untuk meraih SUKSESMULIA kita perlu menguasai tiga hal; Expert, Aset, Epos.  Expert adalah tingkat kepakaran/keahlian yang kita kuasai.  Aset adalah kita mampu mengoptimalkan aset yang telah Maha Kuasa berikan kepada kita berupa aset fisik/metafisik, aset kecerdasan dan aset hati.  Sementara Epos adalah Energi Positif, kita harus memberbanyak energi positif, memberi kebaikan kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Salam SUKSESMULIA

Jamil Azzaini

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | December 16, 2008

Harapan itu masih ada…

December 24th, 2008 by azzahrahidayat

“Dalam perjalanan hidup kita, suatu saat kita butuh terdiam, lalu ambillah dua detik saja untuk menepi dan tersenyum merenungi apa yang baru kita alami. Dan, pungutlah hikmah itu walau berserakan…”

Akan selalu ada pelajaran berharga dari setiap jengkal langkah kaki kita…

Akan selalu ada konsekuensi yang harus kita hadapi dalam setiap keputusan yang kita buat…

Akan selalu ada harapan dari setiap hela nafas dan teriknya matahari di pagi hari…

Akan selalu ada cerita dari keceriaan hidup yang kita alami…

Dan…Akan selalu ada kemudahan dibalik apapun yang bernama kesulitan…

Karena dengan itulah kita butuh untuk tetap bertahan…

Dengarkan Trijaya Setiap Kamis 17.00 - 18.00

December 24th, 2008 by azzahrahidayat

Dengarkan Trijaya Setiap Kamis 17.00 - 18.00

Setiap Kamis pukul 17.00 - 18.00 WIB saya tampil di Trijaya Network. Acara itu di relay di seluruh jaringan Trijaya di Indonesia. Di Jakarta dan sekitarnya bisa didengarkan di gelombang 104.6 FM. Acara yang diberi nama LIFE EXCELLENT ini semakin hari semakin banyak pendengarnya. Alhamdulillah.

Bagi Anda yang diperjalanan, dari pada stress mikirin jalan macet atau jalan berlubang yang ada di berbagai tempat lebih baik dengarkan acara ini. Bagi Anda yang di rumah daripada nonton telenovela yang mengajarkan hidup klise lebih baik juga dengarkan acara ini. Apalagi bagi yang bengong…lebih baik tune in di Triajaya, siapa tahu anda yang kecipratan buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | March 26, 2008

Sebuah Puisi dari Ratih Sang…

October 28th, 2008 by azzahrahidayat

…………

Anakku,…

Bila ibu boleh memilih

Apakah ibu berdada indah atau

harus bangun tengah malam menyusuimu

Maka ibu memilih bangun tengah malam nak

Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali

hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan-

tegukan yang sangat berharga

Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu

di malam hari dalam kantuk ibu,

adalah sebuah rasa yang luar biasa,

yang orang lain tidak akan pernah bisa rasakan

…………………

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | May 11, 2008

Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia oleh Jamil Azzaini

October 28th, 2008 by azzahrahidayat

Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia

book.gifMenyusul buku laris “Kubik Leadership”, Jamil Azzaini meluncurkan buku terbaru karyanya berjudul “Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia” yang merupakan kisah-kisah inspiratif pembangkit motivasi dan pemakna hidup.

“Kisah-kisah yang tertulis dan terangkum dalam buku ini merupakan kumpulan pengalaman dan pengamatan hidup saya,” kata Jamil, pendiri PT Kubik Kreasi Sisilain yang giat menyelenggarakan pelatihan SDM di berbagai perusahaan atau instansi dalam dan luar negeri.

Jamil dan keluarganya membuktikan bahwa kehidupan mereka yang semula miskin, tinggal di gubuk tengah hutan di daerah transmigrasi di Rejomulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan berubah menjadi sukses dan mulia. Mereka mewujudkan impian.

Banyak tokoh berlatar belakang keluarga miskin seperti mantan Presiden Soeharto (almarhum), bintang film Sylvester Stallone, penyanyi Madonna, bahkan pelawak Tukul Arwana, kemudian menjadi orang sukses yang dipuja-puja.

Namun yang telah diraih Jamil memberikan pelajaran sangat berharga dan langka yakni bila kesuksesan diukur dengan harta, tahta, kata, dan cinta alias “4-ta” maka semua itu tidak cukup membuat hidup manusia utuh dan bahagia.

“Keberadaan 4-ta yang telah kita miliki harus pula dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar kita. Kehidupan kita haruslah selalu disibukkan berbagi 4-ta sehingga keberadaan kita benar-benar menjadi gardu Energi Positif (Epos) Tuhan di muka bumi. Itulah energi yang saya sebut sebagai Inspirasi Sukses Mulia,” kata Jamil yang dikenal sebagai Mr. Epos.

Sukses Mulia yang dicapai Jamil, sebagaimana ditulis dalam pengantar buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2008 ini, sampai pada sebuah titik keyakinan bahwa Tuhan akan memberi dan mengabulkan keinginan manusia berdasarkan sangkaan manusia itu sendiri.

“Bila kita yakin bahwa kita akan sukses maka sukseslah kita. Namun bila kita berpikir akan gagal maka gagallah kita,” kata Jamil.

Rangkaian inspirasi

Kisah-kisah dalam buku setebal xxiv+174 halaman ini merupakan rangkaian inspirasi terstruktur yang terbagi dalam tujuh bab utama.

Bab “Anak Desa Menjemput Impian” merupakan kumpulan kisah tentang pentingnya memiliki impian. Bab ini terbagi lima tema tulisan yakni “Impian Hidup’, “Kerang Mutiara atau Kerang Rebus”, “Si Pitak yang Jadi Insinyur Pertanian”, “Getaran Positif”, dan “Undanglah ‘Hiu-Hiu Kecil’ Dalam Kehidupan Anda”.

Bab ini menorehkan perjalanan hidup Jamil - kelahiran Purworejo, Jateng 9 Agustus 1968 - bersama ayah-ibu, Ahmad Zaini dan Wasiyem, seorang kakak, dan dua adiknya yang terjerat kemiskinan tetapi tetap bersemangat menggapai kesuksesan.

“Namaku Jamil, cita-citaku menjadi insinyur pertanian/dosen/guru”, itulah mantera ajaib (magic words) yang ditulis di berbagai buku Jamil ketika kecil.

Jamil kecil bercita-cita menjadi insinyur pertanian karena hampir setiap hari ia melihat kehidupan para asisten perkebunan di PTP XI Lampung (sekarang PT Nusantara VII) ketika itu begitu enaknya.

Ingin menjadi guru karena dihormati dan disegani, dan ingin menjadi dosen karena cerita kakaknya tentang sosok dosen matematika bernama Bukhori yang memiliki kemampuan mengajar luar biasa.

Mantera ajaib itu kerap menjadi bahan tertawaan sinis teman sekolah maupun sepermainan Jamil bahkan oleh sesepuh kampung yang melecehkan cita-citanya.

Mereka melecehkan Jamil karena kehidupannya yang miskin, sehari-hari hanya makan tiwul, kerap menunggak uang sekolah meski hanya dua puluh lima rupiah per bulan.

Namun Jamil dapat membuktikan bahwa ia berhasil menempuh SD, SMP, dan SMA dengan prestasi selalu menjadi juara kelas meski sehari-hari menempuh perjalanan sejauh 40 km menuju sekolahnya ketika menjadi siswa SMA Negeri Way Halim.

Atas prestasinya, ia diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987 tanpa tes, melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Lagi-lagi Jamil dan ayahnya dilecehkan oleh orang kaya di kampungnya yang tidak bersedia meminjamkan uang sebesar Rp300 ribu untuk ongkos ke Bogor dan membayar uang pendaftaran di IPB.

“Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha kok mau kuliah. Baru mau berangkat kuliah saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?” tulis Jamil menirukan hinaan orang kaya tersebut yang membuat Jamil dan ayahnya menangis ketika itu (halaman 11).

Atas semangatnya, Jamil berhasil menjadi insinyur pertanian yang dicita-citakannya bahkan lulus dari program pascasarjana S-2.

Jamil membuktikan diri menjadi kerang mutiara bukan kerang rebus sebagaimana perumpamaan yang kerap didongengkan ayahnya. Tema kerang mutiara dan kerang rebus dalam bab ini sangat inspiratif dan memotivasi meraih hidup lebih hidup.

Bab “Penghambat Sukses” mengajak pembaca memahami kendala diri. Bab ini terbagi empat tema tulisan yang masing-masing diberi judul “Bakar ‘Kapal’ Anda”, “Menjadi Penumpang Berprestasi atau Penumpang Gelap”, “Memutus ‘Rantai Gajah’”, dan “Kutu Dalam Kotak Korek Api”.

Pada bab ini digambarkan kisah Thoriq Bin Ziyad bersama 7.000 anggota pasukannya mampu mengalahkan pasukan Raja Roderic yang memiliki sekitar 100.000 prajurit sehingga berhasil menaklukkan Spanyol pada 3 Mei 711.

Termasuk kisah Herman Cortez bersama pasukannya pada abad 16 yang menemukan tambang emas di Meksiko setelah mengalahkan pasukan Aztec yang sangat ganas dan juga berada di wilayah tambang emas itu.

Keberhasilan Thoriq dan Herman dicapai ketika mereka membakar kapal yang bisa membuat demotivasi pasukannya untuk melawan musuh.

Hikmah yang disampaikan Jamil dari kisah itu adalah pertama bila ingin memenangkan persaingan dalam kehidupan jangan pernah punya rencana untuk lari dari gelanggang, kedua, jangan silau dengan kesuksesan masa lampau, dan ketiga, singkirkan “comfort zone”

Pada bab ini juga dikisahkan keterbatasan fisik pelawak Ucok Baba, cacat buta, tuli, dan gagu pada Helen Keller tetapi mampu lulus dari Universitas Harvard, dan pianis dunia asal Korea Hee Ah Lee yang hanya memiliki masing-masing dua jari di tangan kanan dan tangan kirinya, atau Bill Gates yang tak lulus sarjana tetapi menjadi raja komputer dan menjadi orang terkaya di dunia.

Jamil mencuri Uang Ibunya

Bab “Belajarlah Dari Siapa Pun” mengajak pembaca pada proses yang harus dijalani untuk menggapai kesuksesan.

Bab ini memuat sembilan tema tulisan yang memuat kisah sejumlah tokoh seperti khalifah Usman bin Affan yang membagikan seluruh dagangannya untuk rakyat miskin, khalifah Umar bin Abdul Aziz pada era 99H yang mampu mencapai kemakmuran dan kejayaan rakyatnya meski kekayaan Umar berkurang dari 40 ribu dinar menjadi hanya 400 dinar.

Dikisahkan pula tentang Bahran yang selalu bersedekah senyum sehingga membuat ibunya yang sakit dapat diobati setelah biaya pengobatannya ditanggung oleh seseorang yang terkesan dengan senyum Bahran.

Digambarkan pula kisah nyata Pak Kusnin dan Pak Bejo yang tinggal di kampung Jamil. Kusnin dan Bejo sama-sama memiliki empat anak. Yang membedakan, Kusnin berlatar belakang miskin bisa hidup sukses dan anak-anaknya menjadi orang sukses sebaliknya Bejo yang berlatar belakang kaya raya menjadi jatuh miskin dan anak-anaknya hidup sengsara bahkan dipenjara.

Bab “Cinta dan Keluarga” dapat menyadarkan pembaca akan pentingnya peran anggota keluarga dalam tiap langkah kehidupan.

Yang sangat menarik disajikan dalam bab ini adalah kisah Dwi Riani Julyastuti, isteri Jamil yang sedang hamil delapan bulan, pada September-Oktober 2003 dirawat di perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit.

Kekayaan Jamil ludes untuk mengobati Ria tetapi penyakitnya belum ditemukan sehingga dokter menawarkan obat baru seharga Rp12 juta untuk sekali suntik padahal sehari dibutuhkan tiga kali suntikan.

Jamil kemudian berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan Ria dan minta ditunjukkan keburukan yang pernah dilakukannya.

Tiba-tiba terlintas dalam ingatan bahwa Jamil saat kecil pernah mencuri uang ibunya sebesar Rp125 untuk keperluan bayar sekolah dan jajan padahal uang itu untuk membayar utang ibunya kepada orang lain.

Ketika kecil Jamil tak mengakui perbuatannya dan ibunya sempat mengatakan yang mengambil akan kualat.

Atas dosa tersebut, Jamil dari rumah sakit kemudian menghubungi ibunya untuk meminta maaf. Ibunya mencabut kata-kata kualat tersebut dan secepat itu pula dokter memberitahukan bahwa penyakit Ria telah ditemukan, infeksi pankreas, bisa diobati sehingga segera membaik.

Sejak itu Jamil kian meyakini hukum kekekalan energi yang intinya sama dengan petuah agama.

“Apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula”.

Bab “Meraih Sukses Mulia” menekankan pembaca untuk menebarkan energi positif dalam hidup dan memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Jamil mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan “Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”.

Kisah M Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mampu mengentaskan kemiskinan di 46 ribu desa sehingga dia meraih hadiah Nobel pada 2006, disebut Jamil sebagai salah seorang yang menjadi gardu energi positif dunia.

Pada bab “Yang Ditanam Itulah yang Dituai” Jamil mengingatkan tentang dampak yang pasti diterima atas apa yang telah diperbuat.

Pada bab ini antara lain dikisahkan seorang pimpinan perusahaan yang sering menerima uang yang bukan haknya hingga berjumlah Rp526 juta. Belakangan ia tertimpa musibah, anaknya terjerat narkoba dan menghabiskan biaya pengobatan juga sebesar Rp526 juta.

“Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak,” kata pimpinan perusahaan itu kepada Jamil (halaman 136).

Jamil mengingatkan, “Bila kita mengeluarkan energi positif, buahnya adalah kebaikan, kedamaian, kebahagiaan, dan hal positif lainnya. Bila kita mengeluarkan energi negatif, yang akan kita panen adalah penderitaan, musibah, rasa sakit, dan hal negatif lainnya”.

Sementara bab terakhir “Menjaga Hasil yang Dituai” merupakan kisah yang akan memberi inspirasi melanggengkan kesuksesan seseorang dalam memberi manfaat kepada masyarakat.

“Jadikan setiap detik yang kita punya membawa manfaat buat kita, keluarga, saudara, masyarakat, dan bangsa,” kata Jamil (halaman 168).

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | March 24, 2008

Ibu I miss you so much

October 28th, 2008 by azzahrahidayat

Jakarta , Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun
yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau
keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini
izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit
di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit
yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan
sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya
ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun
menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya
membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter
itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa
dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah
sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik,
dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh
enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara
bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit
isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit
istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami
bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri
Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati
memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan
coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang
ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku
mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti
bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun
mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau
balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga
Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah
terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya
Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di
leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah
kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang
miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya
Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang
hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP,
sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku.
Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang
mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan
Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh
keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini
karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki
itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh
lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu
sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang
ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya
menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu
saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu
saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening
sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya
berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat,
aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu
nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah
memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan
dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil
mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit
isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan
panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi
dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat
erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan
membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri
“Ibu, I miss you so much.”

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | March 14, 2008